Punya Hobby baru

Sudah setahun lebih aku meninggalkan dusun Lendah, dimana aku dibesarkan. Merantau di tanah orang di bumi mBorneo, tepatnya di Kota Samarinda.

Dulu waktu masih kuliah, pelihara Arwana jenis Jardini alias Irian, aku kasih nama Amatzone berdua dengan Dollar yang setia menemani di aquarium. Pas aku tinggal kerja di Karawang, ternyata RIP, dikarenakan dikasih PK (Kalium Permanganat) obat untuk jamur dan gatal2. Ternyata Amatzone ku terkena jamur, dan ma Bapakku di kasih PK.

Setelah kena PHK bulan Januari 2009, aku beli lagi Arwana kayaknya sih Pino. Karena waktu gedhenya aku ga liat lagi soalnya baru dua bulan plihara langsung terbang ke mBorneo untuk melanjutkan kisah bersama keluarga kecilku.

Di bumi mBorneo inilah aku punya hobby baru, memelihara RES (red ear slider) alias kura-kura brazil. Awalnya pengin melihara Arwana lagi, karena dah jatuh hati lihat liukannya di aquarium. dan sebetulnya pun aku masih lebih suka dengan hewan-hewan lokal, dan dikarenakan yang ada di pasaran hanya RES maka aku putuskan memelihara RES, dan ternyata mengasyikkan juga. Oiya, pengambilan keputusan untuk memelihara kura-kura dikarenakan di Samarinda untuk pasokan air bersih sangat susah, jadi biar agak irit dikit penggunaan airnya karena jika memelihara ikan arwana pasti butuh air tawar bersih yang banyak.

Pertama aku beli RES, seekor saja. dan hanya berumur sebulan langsung koit. ternyata memelihara RES terutama yang masih Baby sangat susah, perlu banyak perhatian. dan juga ada yang mengatakan kalo baby RES sangat rentan, dan hanya untung-untungan jika dapat sampai besar.

setelah itu, aku beli dua ekor RES, mudah2an jantan-betina. sudah sebulan lebih ini aku pelihara, aku kasih nama Paijo&Paijem. Bukannya mengandung tendensi terhadap nama orang, cuma untuk mengingatkanku bahwa aku di sini berpijak di rantau orang. Dan nama itu sangat nJawani, jadi aku ambil nama itu untuk mengingat bahwa keluargaku sebagian besar ada di Jogja.

TKS

saat sedih menumpuk

berjalan gontai menyusuri aspal panas siang hari, saat merasakan beban teramat berat…

Sebuah sejarah lisan…

entah, apa yang aku bicarakan ini bisa dipertanggungjawabkan atau kurang bisa. Yang jelas aku mendengar ini dari beberapa seniorku di Lendah…

Sebuah dusun yang mempunyai titik mula pada sebuah masjid dan makam kuno. Sekarang orang2 biasa menyebut Masjid al Furqon dan Makam Kyai Landoh. Adapun nama makam ini dinisbatkan pada seorang pioneer bagi kehidupan masyarakatnya, beliau bernama Kyai Landoh Syeh Jangkung. Mendirikan sebuah peradaban di wilayah yang sekarang dikenal sebagai dusun Lendah

Masjid al furqon. Merupakan masjid tertua diwilayah Kecamatan Lendah. Dulunya merupakan masjid kecamatan, yang berfungsi sebagai sentra kegiatan keagamaan. Diyakini beberapa orang bahwa Masjid al Furqon masih punya afiliasi dengan Keraton Ngayogyokarto Hadiningrat, hal ini berdasar pada tanah tempat berdirinya mempunyai status Sultan Ground. Sekarang baru tahap renovasi yang panjang dan melelahkan, belum sempurna dengan rencana awal sudah kena musibah Gempa 27 Mei 2006. Ujian dari Allah yang Maha Besar

Makam Kyai Landoh. Di bagian utara terdapat Makam Petilasan Mbah Kyai. Banyak juga yang berziarah ke sana.

aku

mungkin hanya sebuah nama Addin Ar Ridlo

percobaan

blog pertamaku….

jadulnya kau ini…. baru bisa bikin blog

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.